Tentang Kemauan
Tentang Kemauan
Namaku Nazla, aku adalah seorang anak yang terlahir dengan kemampuan yang terbatas dalam bidang hitung menghitung. Sejak masa sekolah, aku sangat takut pada mata pelajaran Matematika, di tingkat SMP ketakutanku semakin besar karena adanya mata pelajaran tambahan yang juga tidak jauh dari hitung – hitungan, yapp tentu saja ada fisika. Nyatanya fisika lebih sulit dibandingkan Matematika, tentu hal tersebut membuat aku sangat cemas tatkala belajar mata pelajaran tersebut. Di tingkat SMA, aku masuk salah satu sekolah favorite di daerahku, ya aku berusaha tatkala itu yang akhirnya mengantarkanku hingga bisa bersekolah disana. Pada saat itu aku sangat bimbang memilih jurusan IPA atau IPS, namun akhirnya aku memilih IPA yang tentu saja hampir semua mata pelajarannya berhubungan dengan Matematika seperti Fisika dan Kimia. Selama menjalani Pendidikan di tingkat SMA, memang aku bertemu dengan teman – teman yang luar biasa hebat baik dalam pembelajaran seperti ketekunan dalam belajar, mudah mengingat materi dan baik dalam penalaran. Selama bersekolah disana aku sangat minder dan merasa pesimis dalam meraih cita – cita seolah – olah aku adalah orang yang paling bodoh dan tidak mampu mengikuti pembelajaran dengan baik jika dibandingkan dengan teman – temanku yang lain.
Terlebih aku berasal dari kampung yang tidak tau menau tentang situasi perkotaan bagaimana sedangkan teman – temanku berasal dari perkotaan yang pada saat itu aku merasa minder baik dari penampilan maupun pengetahuan. Menjadi anak kampung pada saat itu membuat aku merasa tidak akan mampu belajar dengan baik terlebih saat di kelas 12 aku tidak terpilih menjadi salah satu yang mendapatkan SNMPTN di sekolah sedangkan teman – teman yang lain banyak yang lolos. Saat itu aku sangat terpukul dan merasa bersalah kepada orangtuaku yang telah menyekolahkan aku dengan baik. Namun aku pada akhirnya aku menempuh jalur lainnya yakni SBMPTN dimana tatkala itu aku mengikuti salah satu bimbel di Medan dengan teman – teman yang lain. Kurang lebih selama 2 minggu aku mengikuti persiapan SBMPTN tatkala itu, sembari belajar SBMPTN aku juga mengikuti bimbel adzkia untuk persiapan masuk STAN namun memang saat itu aku tidak terlalu tertarik dengan sekolah tersebut sehingga persiapanku juga tidak terlalu matang. Pada tanggal 2 mei 2018 aku mengikuti seleksi STAN di BDK Medan, dimana aku sangat sedih karena nilaiku tidak mencukupi untuk lulus pada saat itu. Tentu saja aku sangat sedih dan terpukul akan tetapi aku memang tidak belajar dengan baik jadi seharusnya aku tidak bersedih heheh. Setelah seleksi STAN pada tanggal 2 mei, hari selanjutnya ternyata lebih berat karena itu merupakan pengumuman untuk hasil SBMPTN yang lagi – legi membuat aku sangat kecewa dan sedih, ya benar aku gagal lagi. Namun tangisku lebih kepada kedua orangtuaku yang sangat amat kecewa pada saat itu. Sedih dan malu pada teman – teman yang lulus dimana – mana membuat aku merasa sangat terpukul. Pada akhirnya aku menempuh jalur mandiri di berbagai kampus yang mengantarkan aku untuk memilih UNIMED pada jurusan Pendidikan Matematika yang memang itu mata pelajaran yang sangat tidak aku kuasai.
Tentang keyakinan pada akhirnya di semester pertama aku masih tidak
menerima kedaan bahwa aku gagal, aku hanya berpikir bahwa aku berkuliah di
UNIMED itu hanya sementara saja. Sebab itulah aku terus belajar untuk lulus
STAN di tahun berikutnya, semabri kuliah aku mengikuti bimbel hingga nilaiku
anjlok pada saat itu. Pada akhirnya takdir berkata lain, aku tidak lulus
seleksi namun saat itu aku tidak terlalu menangis karena aku merasa aku sudah
maksimal dalam perjuangan. Memang terkadang ada kehendak yang diluar kemampuan
kita meski kita sudah berusaha jika memang bukan kita yang dipilih Allah maka
tidak akan terjadi. Hingga akupun menerima bahwa aku kuliah di UNIMED dan
memang inilah jalanku. Setiap hari aku bergelut dengan Matematika yang ku
takuti akan tetapi aku meyakini bahwa aku mampu dan bisa hingga keyakinan itu
berbuah hasil, aku mampu mempelajarinya. Ternyata Matematika tidak
semenyeramkan itu, bahkan lebih menyenangkan dari yang ku kira meski
membutuhkan sedikit kemampuan dalam penalaran yang baik. Menyelesaikan
Pendidikanku ditingkat S-1 adalah suatu kebanggaan bagiku setelah banyaknya
drama yang telah terjadi dalam menjalaninya. Aku bersyukur saat ini bisa
menjadi seorang guru yang banyak mengajarkanku banyak hal salah satunya
menerima takdir yang Allah tetapkan, selain itu berinteraksi dengan anak – anak
serta mengajari mereka membuat aku merasa senang ikut serta dalam pencapaian
kesuksesan mereka. Aku menyadari bahwa disinilah aku, apa yang menjadi
kegemaranku bisa aku tuangkan saat aku menjadi guru. Untuk ketika kita meyakini
bahwa kita mampu dan bisa dalam suatu hal maka kita pasti akan bisa nantinya.
Komentar
Posting Komentar